Sabtu, 03 Januari 2009

MEMBANGKITKAN PERGERAKAN MAHASISWA FKG UI

MEMBANGKITKAN PERGERAKAN MAHASISWA FKG UI ;
Sebuah Tantangan Antara Utopisme dan Kenyataan

Mahasiswa dengan idealismenya yang tinggi menjadi suatu komunitas yang khas di dalam masyarakat. Mahasiswa dengan pemahaman ilmu pengetahuan yang diterima di bangku kuliah membuatnya penuh dengan rancangan-rancangan ideal dalam hidup demi terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur. Selain itu mahasiswa bersifat “murni”, belum tergabung dalam berbagai kelompok tertentu sehingga mereka belum terpengaruh oleh kepentingan apa pun, kecuali pengembangan intellektualitas/konsep pengembangan pemikiran dalam konteks ilmu pengetahuan. Dengan demikian mahasiswa wajib menyadari peran dan fungsinya sebagai kaum intelektual bangsa yang harus mampu memberikan perubahan kearah yang lebih baik untuk kemajuan peradaban masyarakat, bangsa dan negara yang diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa
Mahasiswa pada dasarnya memiliki tiga peran penting, yaitu sebagai agen perubah (Agent of change). Hal tersebut dikarenakan mahasiswa menjadi salah satu elemen penting dalam pembangunan peradaban bangsa yang merupakan kelompok masyarakat yang memiliki nilai yang eksis. Mahasiswa dengan konsep ilmu pengetahuan yang dimiliki merupakan iron stock yang menjadikan mahasiswa sebagai aset, cadangan dan harapan atau bahan baku yang utuh dalam konteks kekinian dan konteks masa depan. Mahasiswa diharapkan mampu manjadi agent of change dalam memperbaiki kondisi bangsa saat ini yang masih belum pada kondisi ideal, yaitu masyarakat atau peradaban yang maju dan sejahtera. Selain itu, mahasiswa dengan idelismenya menjadi social control atau moral force yang berperan sebagai penjaga nilai-nilai kebenaran, keadilan dan keseimbangan serta kemanfaatan di masyarakat, baik itu nilai-nilai yang mengandung aturan/pedoman yang harus dan patut dihidupkan secara otonom atau heteronom di bidang keagamaan, kesusilaan, kesopanan dan hukum sebagai pelekatan adanya sanksi dalam pola kehidupan manusia agar nilai-nilai kebenaran, keadilan dan keseimbangan serta kemanfaatan dapat berjalam dalam konteks kekinian dan masa depan demi peradaban yang baik ditengah-tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
Sejarah telah membuktikan bahwa perubahan sosial dan corak kehidupan masyarakat di berbagai negara tidak lepas dari pergerakan mahasiswa. Sebut saja revolusi menuntut kemerdekaan di Hungaria tahun 1956, revolusi ke dua di Turki dan kisah sukses pergerakan mahasiswa lainnya di berbagai negara dalam mengusung perubahan melawan berbagai tembok tirani yang berdiri kokoh dengan kelicikan dan kemunafikan dalam merintis pembangunan. Begitu pula yang terjadi di Indonesia. Kita tidak akan lupa dengan catatan perjuangan kaum intelektual ini dalam mempelopori kemerdekaan Indonesia. Peristiwa kebangkitan nasional, sumpah pemuda dan peristiwa Rengasdengklok yang menghasilkan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Selain itu, Tritura dan penggulingan kekuasaan rezim Orde Baru “Reformasi Bangsa” 1998 yang dimotori oleh mahasiswa pun merupakan fenomena yang tidak terlepas dari unsur pergerakan mahasiswa untuk menjaga konsistensinya dalam usaha memajukan dan mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur dalam konteks berbangsa dan bernegara.
Sejak digulirkannya program Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/ BKK) oleh Pemerintah di zaman Orde Baru, tepatnya oleh Daud Yusuf pada tahun 1978, mahasiswa kehilangan ruh perjuangannya. Kegiatan mahasiswa dibatasi pada wilayah minat dan bakat, kerohanian dan penalaran. Pembicaraan politik hanya dapat dilakukan pada jam perkuliahan dan forum-forum ilmiah seperti seminar. Aktivitas demonstrasi mahasiswa dikatakan sebagai kegiatan politik praktis yang tidak identik dengan masyarakat ilmiah. Belum lagi ditambah adanya kebijakan Sistem Kredit Semester (SKS), membuat mahasiswa menjadi insan akademis yang hanya bergelut dengan buku-buku pelajaran dan berlomba-lomba untuk cepat menyelesaikan kuliah agar dapat mencari pekerjaan. Depolitisasi yang diterapkan tersebut sungguh efektif, menyebabkan selama beberapa tahun kegiatan mahasiswa jauh dari aktivitas demonstrasi atau advokasi masyarakat.
Mahasiswa di bidang ilmu kesehatan termasuk di dalamnya mahasiswa Kedokteran Gigi UI yang merupakan bagian integral dari mahasiswa keseluruhan pun terkena dampak dari kebijakan-kebijakan tersebut. Ditambah dengan jam kuliah praktik baik di laboratorium maupun di klinik, hal ini makin mempertajam apatisme mahasiswa di bidang ilmu kesehatan akan semangat perjuangannya tersebut.
Peristiwa reformasi pada tahun 1998 yang dimotori oleh gerakan mahasiswa berhasil menjatuhkan sebuah rezim yang telah berkuasa di negeri ini selama tiga puluh dua tahun. Diikuti dengan peristiwa aksi mahasiswa nasional mengumandangkan TUGU Rakyat pada tanggal 12 Mei 2008, yang merupakan evaluasi mengenai pelaksanaan reformasi yang telah berjalan sepuluh tahun yang dinilai belum dapat merealisasikan amanah reformasi. Kedua hal ini digadang-gadang menjadi indikasi bahwa pergerakan mahasiswa telah bergelora kembali.
Namun, hal tersebut nampaknya masih belum bisa dialamatkan kepada mahasiswa di bidang ilmu kesehatan termasuk mahasiswa FKG UI. Dampak dari penerapan kebijakan NKK/BKK dan sistem SKS masih berpengaruh dalam usaha reinkarnasi perjuangan mahasiswa tersebut. Akibat buruk yang ditimbulkan dari kebijakan tersebut adalah lahirnya sikap pragmatis dan study oriented di kalangan mahasiswa FKG UI. Tuntutan ketertarikan kepada nuansa akademis yang menjadi kewajiban mutlak di kampus lebih mendominasi dari pada aktivitas-aktivitas berbasis kerakyatan di luar kampus. Padatnya tugas kuliah dengan “doktrin” SKS dan PBL ditambah lagi dengan bayangan dunia kerja yang menjadi tuntutan masa depan yang persaingannya semakin hari semakin sulit di era globalisasi ini, menjadi sebuah alasan yang tidak dapat dihindari lagi.
Kegiatan-kegiatan bersifat non-akademik masih kurang diminati dan diikuti oleh mahasiswa. Hal ini dilihat dari sedikitnya partisipasi mahasiswa FKG UI dalam berbagai kegiatan atau pun kepanitiaan. Bahkan untuk setiap kepanitiaan yang diselenggarakan melalui lembaga kemahasiswaan seperti Badan Eksekutif Mahasiswa atau Badan Semi Otonom (BSO) muncul sebuah anekdot “Lo Lagi Lo Lagi (4L)”, sebuah ironi yang menggambarkan bahwa mahasiswa yang berperan dalam hampir semua kegiatan adalah orang-orang yang sama. Kemudian hal lain yang bisa dijadikan salah satu bukti tetapi tidak mengeneralisir secara keseluruhan bahwa negative effects dari penerapan sistem SKS ini bisa dilihat dari berkurangnya jumlah partisipasi mahasiswa FKG UI untuk memiliki kebutuhan pengembangan organisasi setiap tahunnya.
Sebenarnya beberapa tahun lalu aura pergerakan mahasiswa FKG UI sempat kembali bersinar dengan Badan Eksekutif Mahasiswa FKG UI menjadi salah satu pelopor berdirinya organisasi mahasiswa kedokteran gigi S1 tingkat nasional yang dikenal dengan nama Persatuan Mahasiswa Kedokteran Gigi Indoensia (PSMKGI) pada tahun 1989 di Yogyakarta, bahkan sempat anggota dari FKG UI menjadi Sekretaris Jendral (Sekjen) untuk beberapa waktu yang lalu. Namun belakangan aura itu terasa semakin meredup dan naik turun seiring semakin padatnya waktu perkuliahan dan tugas-tugas yang diberikan di kampus untuk mencetak dokter gigi terbaik di negeri ini. Selain itu, kurang optimalnya transfer informasi antara para senior terdahulu yang telah lulus dan para kadernya saat ini yang memegang kendali organisasi kemahasiswaan seperti BEM menjadi salah satu faktor predisposisi akan hal ini.
Memang menjadi sebuah kenyataan yang agak mengkhawatirkan mengingat pergerakan mahasiswa Universitas Indonesia merupakan tolak ukur dan sokoh guru pergerakan mahasiswa se-nusantara. Mahasiswa FKG UI yang merupakan bagian dari UI secara keseluruhan tentu pada akhirnya pun memiliki tanggungjawab moril yang besar akan gerak mahasiswa kedokteran Gigi se-Indonesia. Hal ini, salah satunya dikarenakan letak kampus UI yang berada di pusat pemerintahan dan perekonomian negeri ini, sehingga memungkinkan kita untuk dapat mengakses informasi secepat mungkin mengenai segala masalah yang sedang terjadi di bangsa ini. Tetapi malah kita sedang menghadapi permasalahan internal sekarang, yaitu defisiensi semangat pergerakan mahasiswa.
Tentu hal ini sangat tidak menguntungkan karena pada akhirnya secara sosiologis akan membuat kita mendapatkan tekanan bahwa FKG UI sebagai pioneer gerakan mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia dan juga mahasiswa Kedokteran Gigi di institusi lainnya yang tetap menganggap kita lah motor penggerak mereka. Jika FKG UI bergerak, maka mereka pun secara serentak akan bergerak, tetapi jika kita tidak bergerak saat seharusnya ada masalah yang disikapi maka mereka pun tidak akan bergerak namun mereka akan mengkritik pedas kita.
Tawaran Solusi :
Sebuah tugas yang berat memang sedang menanti kita para mahasiswa FKG UI untuk segera diselesaikan. Bahkan terkadang terlintas dibenak beberapa gelintir mahasiswa atau pun pernah tercetus dalam suatu diskusi bahwa memperbaiki dan meningkatkan semangat pergerakan mahasiswa di FKG UI seperti hanya menegakkan utopia belaka, sesuatu yang hanya bisa diimpikan tapi hampir tidak mungkin dapat diwujudkan. Tapi saya memiliki keyakinan bahwa pergerakan itu akan datang dari hati nurani kita masing-masing dan saya masih percaya FKG UI masih memiliki orang-orang seperti itu saat ini.
Menurunnya sense of belonging mahasiswa-mahasiswa FKG, walau pun belum pada tahap kronik karena masih ada yang memiliki semangat tersebut, tetapi kenyataan ini sudah sangat mengkhawatirkan. Tuntutan untuk meraih nilai Indeks Prestasi yang baik di setiap semesternya agar kelak setelah lulus dapat mendapatkan pekerjaan dengan segera lebih tertancap di benak mahasiswa-mahasiswa FKG UI. Namun demikian, mereka pun tidak bisa disalahkan atas fenomena ini.
Perlu ada satu hal yang perlu digarisbawahi menyikapi fenomena ini. Ada suatu sistem yang mungkin tidak dijalankan secara optimal, yaitu eskalasi isu melalui penuansaan kampus. Hal ini merupakan salah satu penyebab utama mengapa sangat sulit sekali efek negatif dari sistem perkuliahan SKS untuk dikalahkan. Seharusnya bila kita ingat kembali bahwa manusia memiliki banyak sekali hal yang dipikirkan. Banyak sekali tanggungjawab yang harus dijalankan atau dikerjakan sehingga manusiawi jika penting untuk diingatkan kembali.Oleh karena itu penting mengoptimalkan pengangkatan (eskalasi) isu. Selain itu, untuk menimbulkan rasa empati dikalangan mahasiswa
Eskalasi isu di sini dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya, misalnya memaksimalkan penggunaan papan komunikasi mahasiswa dan penerbitan artikel-artikel berkala. Media-media tersebut harus dimaksimalkan penggunaannya dalam pembahasan isu-isu seputar Kedokteran Gigi, baik itu berisi tentang masalah sosial, politik, ekonomi dan serba-serbi ilmu kesehatan lainnya.
Dengan adanya optimalisasi dalam hal eskalasi isu diharapkan dapat memfasilitasi kebutuhan mahasiswa FKG UI akan informasi seputar profesi ini. Hal ini sedikit demi sedikit akan dapat meningkatkan kepekaan mahasiswa FKG terhadap masalah-masalah Kedokteran Gigi dalam lingkup kecil dan masalah kesehatan secara general, sehingga pada akhirnya semangat akan kembali bergelora dan menghidupkan kembali ruh pergerakan mahasiswa FKG UI bukan lagi menjadi sebuah utopia belaka. Tapi saya memiliki keyakinan bahwa pergerakn itu akan datang dari hati nurani kita masing-masing dan saya masih percaya FKG masih memiliki orang-orang seperti itu saat ini.
Secara garis besar dapat dikatakan bahwa mahasiswa FKG UI harus mampu menemukan arti hidupnya dalam konteks filosofis sebagai mahasiswa yang mengkontekskan dirinya sebagai calon sumber daya manusia yang paripurna dalam dunia ilmu pengetahuan yang bersifat ilmiah, objektif dan universal, khususnya ilmu kedokteran gigi, bahwa mahasiswa FKG UI harus mampu secara sosiologis menempatkan dirinya sebagai makluk social yang utuh sehingga nilai-nilai yang menjadi aturan atau pedoman (konteks keagamaan, kesusilaan dan kesopanan) dalam peri kehidupan pribadi dan sesama dapat terwujud, dan mahasiswa FKG UI harus mampu secara yuridis menempatkan dirinya sebagai subjek hukum demi ikut sertanya dalam mewujudkan nilai-nilai kebenaran, keadilan dan keseimbangan serta kemanfaatan sehingga secara langsung maupun tidak ikut serta dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur yang diridhoi oleh Tuhan Yang maha kuasa.
Bahwa pengembangan potensi sumber daya manusia berdasarkan intelectualisme dan professionalisme serta mempererat hubungan umat manusia yang bermanfaat bagi kemajuan masyarakat, bangsa dan Negara yang diridhoi Tuhan Yang Maha Kuasa adalah pilar besar bagi mahasiswa dalam menemukan jati dirinya.
Wass. [atik, 2008]

BANGKIT FKG UI, BANGKIT INDONESIAKU!!!